50 Tahun Prambors, Warkop Hingga Catatan Si Boy!
Tanggal Posting : Jumat, 5 Maret 2021 | 09:29
Pengirim : Reza Indrayana - Dibaca : 254 Kali
Desta Gina in The Morning (DGITM), andalan prime time pagi Prambors Radio

Jakarta, Jurnalinfo.com-50 tahun sudah Prambors mengudara. Siapa yang sangka bahwa lahirnya radio nomor 1 di Indonesia ini berawal dari rasa ingin "beken" sekelompok remaja? Malik Sjafei Saleh adalah remaja berusia 18 tahun yang menjadi salah satu pendiri Prambors pada 18 Maret 1971. Malik mulai "main" radio dengan teman sebayanya, Imran Amir, Mursid Rustam, Bambang Wahyudi, Tritunggal, dan lainnya yang merupakan teman satu RT di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Prambors diambil dari tiga jalan tempat mereka tinggal yaitu Prambanan, Mendut, Borobudur.

"Nama Prambors sudah ada sebelum radio berdiri. Remaja di RT itu bikin geng namanya Prambors. Kami bikin radio supaya kami beken," kata Malik, Direktur Utama Masima Corporation yang membawahi radio Prambors, seperti dilansir dari www.pramborsfm.com.

Lahirnya Prambors dimulai dari kesukaan Tritunggal atau yang biasa disapa Itung akan mengutak-atik pemancar radio pada 1967.

Malik menceritakan bahwa anak-anak gengnya menggunakan antena dari bambu yang dipasang di atas pohon. Siaran tanpa izin itu mengudara dari kamar Bambang Wahyudi dan hanya dapat ditangkap sampai daerah Dukuh Atas yang kurang lebih dua kilometer dari markas Prambors.

Dahulu, Prambors hanya memutar lagu yang menjadi trend pada 1960-an seperti Massachusetts dari Bee Gees, I Gotta Know What is Going On dari The Cats, dan lagu-lagu beken dari band legendaris, The Beatles.

Pada 1969, Prambors mulai terorganisir dalam bentuk yayasan. Pada 18 Maret 1971, Prambors berdiri menjadi badan hukum resmi bernama PT Radio Prambors Broadcasting Service.

Malik juga menceritakan bahwa dia yang masih remaja mendapatkan bantuan dari kawan-kawannya yang sudah mahasiswa seperti Temmy Lesapura, salah satu orang yang beperan penting akan lahirnya Prambors.

Siaran Prambors pada awalnya masih berdasarkan feeling dari remaja-remaja tersebut, seperti perasaan dan style mereka. Bahkan mereka masih belum mengerti teori bisnis. Hal tersebut yang membuat Prambors sempat mengalami masa krusial pada 1975-1978.

"Kalau mau mengikuti usia pendirinya, radio akan ikut tua. Di situlah krusialnya. Kalau waktu itu kami sadar untuk membuat product positioning sesuai target market, barangkali ini tidak ada lagi Prambors." ujar Malik.

Malik ingin menjadikan Prambors tidak hanya sebagai pengganti kaset tetapi sebagai kawan. Hal ini karena radio dapat bertemu dengan pendengar setiap saat seperti teman, di tengah malam, di kamar tidur, bahkan di kamar mandi.

Prambors akhirnya tetap komit dengan kaum muda berusia 15-25 tahun, mereka membuat produk yang sesuai dengan sasaran pendengar.

Meskipun demikian, Malik menyadari bahwa radio juga dapat bersifat fragile dan rawan karena apabila sekali mendengar dan pendengar tidak menyukai produk, mereka akan sulit kembali.

Untuk itu Malik menekankan perlunya pemahaman selera, perilaku, gaya hidup, dan lainnya sehingga mereka melakukan riset setiap tiga tahun. Survei tersebut digunakan untuk membuat rencana program siaran, promosi, dan layanan lainnya.

Malik menyadari bahwa dunia remaja dahulu berbeda dengan remaja saat ini. Dahulu Prambors dapat menentukan tren, berbeda dengan sekarang.

Misalnya, dahulu Prambors merintis Lomba Cipta Lagu Remaja yang menghasilkan Lilin-Lilin Kecil. Prambors jugalah yang menjadi pelopor Warkop Prambors, Sersan Prambors yang menjadi kelompok komedi, begitu juga dengan film layar lebar  Catatan Si Boy.

"Sekarang kami yang harus mengikuti tren mereka. Jelajah informasi dan pengetahuan mereka sangat luas. Radio ngomong tentang Paris Hilton, mereka sudah jadi follower Paris Hilton di Twitter," kata Malik memberi ilustrasi.

Namun, Prambors akhirnya dapat bergaul dengan remaja dan menjadi berteman dengan remaja. Prambors tetap memosisikan diri sebagai teman yang mendengar suara dan kesukaan kaum muda tanpa menggurui meskipun usianya kini menginjak 50 tahun.

Prambors sekarang tidak hanya di Jakarta, tetapi sudah mengudara dan menjadi teman dari remaja di berbagai kota seperti Bandung, Makassar, Medan, Semarang, Solo, Surabaya, dan Yogyakarta. Di bawah kelompok usaha Masima, kini selain Prambors mengudara juga Radio Female 100,2 FM, Bahana 101,8 FM dan Delta FM di 8 kota.

"Jadi, kalau ditanya apakah saya masih remaja, barangkali iya, ha ha ha...," ujar Malik.

Usia hanya soal angka, jiwa muda itu abadi, selamanya.

REZA INDRAYANA




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait

https://www.iisip.ac.id/pmb
https://www.graharaya.com/product/produk-terbaru
https://timindonesia.id/
Berita Populer
Berita Terbaru
Rabu, 8 Mei 2013 | 18:48
Minggu, 17 Februari 2013 | 22:30
Selasa, 4 Juni 2013 | 23:33
Jumat, 27 Desember 2013 | 13:00
Kamis, 16 Mei 2013 | 16:17
Kamis, 24 Maret 2016 | 08:22
Selasa, 11 Februari 2014 | 14:01
Senin, 11 November 2013 | 17:45
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 18:12
Senin, 26 Agustus 2013 | 08:15
Senin, 18 Maret 2013 | 19:24
Kamis, 12 Sepember 2013 | 10:32
Senin, 15 Juli 2013 | 14:44
Selasa, 10 Sepember 2013 | 01:41
Rabu, 29 Januari 2014 | 21:09
Katalog Berita

JURNAL NASIONAL

JURNAL HIBURAN

JURNAL PARIWISATA

JURNAL URBAN

JURNAL HAJI DAN UMROH

JURNAL IDUL ADHA 1442 H

JURNAL NASIONAL

loading...
target=_blank>


target=_blank>