Bu Guru Aisyah, Katong Memang Besodara
Tanggal Posting : Selasa, 17 Mei 2016 | 11:08
Pengirim : didang - Dibaca : 415 Kali
Bu Guru Aisyah Bersama Siswa Sisiwnya

Jurnalinfo.com--Sebuah misi dan sebuah idealisme bisa ditinjukkan melalui film yang melulu tidak menggurui atau memberikan petitah petitih kepada penontonnya. Kemasan drama melalui akting dan cerita yang diarahkan sutradara film Aisyah Biarakan Kami Bersaudara menemui titik sentuh perasaan persaudaraan antara suku,budaya dan agama anak bangsa negeri ini : Nusantara atau Indonesia.

Si Teteh Aisyah yang diperankan Laudya Cyntia Bella yang tinggal di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kawasan Ciwidey yang subur, sejuk, dan mudah mendapatkan air. Semua itu tak didapatkan Si Teteh ketika memilih menjadi guru di daerah Atambua, Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan dengan Timor Leste.

Di Desa Derok, Atambua itulah Bu Guru Aisyah ditempatkan oleh sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Tak mudah bagi Aissyah untuk menyatu di desa yang kerang dank eras dan yang lebih prinsip lagi : Aisyah orang Sunda dan seorang muslimah, serta mengenakan Jilbab. Sedangkan warga setempat beragama Katolik yang fanatic akan keyakinanya itu.Tak semudah pergi ke pasar untuk diterima oleh penduduk setempat.

Galibnya sebuah film cerita tantangan itu menjadi konflik yang dibuat menarik oleh Sutradara Herwin Novianto, yang pada plot selanjutnya damai itu juga datang. Fordes, salah satu murid di desa Derok itu curiga bahwa Bu Guru Aisyah datang untuk membunuh kaum Katolik dan menghancurkan mereka. Melalu pendekatan cinta dan misis pendidikan memajukan putra putri bangsa serta bantuan Kepala Adat setempat, Aisyah dapat diterima oleh warga setempat, meski berbeda tapi katong bersodara.

“Saya mendapatkan pengalaman baru dari film ini. Bahwa Indonesia memang kaya akan budaya. Dan, perbedaan Ciwidey dan Atambua adalah warna Indonesia. Panasnya di sana pernah saya rasakan sampai 39-42 derajat. Karena saking semangatnya saya bisa dengan senang hati bekerja. Kebetulan sutradara Herwin Novianto orangnya tidak pernah marah dan banyak senyum,”ujar Bella.

Film produksi One Production ini juga diisi oleh para pemain Lyidia Kandou, Ge Pamungkas, Arie Kriting dan, Panji Surya Sahetapy.”Saya punya idealism bagaimana pendidikan bisa merata di Indonesia, Karena dengan pendidikan bangsa ini bisa terus maju,”ujar Hamdani Koestoro yang mendapat ide dari seorang temannya dan meneruskan kepada Jujur Prananto, seorang penulis ternama, yang kerap mendapatkan penghargaan di bidang penulisan skenario.

Sementara sutradara Herwin Novianto, peraih penghargaan Sutradara Ter”baik lewat film Tanah Surga Katanya, pada FFI Yogyakarta 2012, berani menyertakan anak-anak asli Atambua untuk ikut main dalam film ini.”Mereka tidak mengenal film dan belum pernah menonton film, tapi mereka begitu cepat menghapal naskah dan aktingnya baik sekali,” kata Herwin yang melakukan audisi untuk menseleksi para pemain tersebut.

Ada Sunda, Jawa, Batak, Minang, Ambon, Atambua, Aceh hingga Papua, itulah Nusantara kita, Itulah Indonesia kita. Beda agama, beda budaya, beda bahasa tapi kita satu suara : Majukan Indonesia ! Karena Katong Memang Besodara. (didang)

 

 




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Populer
Berita Terbaru
Rabu, 8 Mei 2013 | 18:48
Minggu, 17 Februari 2013 | 22:30
Selasa, 4 Juni 2013 | 23:33
Jumat, 27 Desember 2013 | 13:00
Kamis, 16 Mei 2013 | 16:17
Kamis, 24 Maret 2016 | 08:22
Senin, 11 November 2013 | 17:45
Selasa, 11 Februari 2014 | 14:01
Senin, 26 Agustus 2013 | 08:15
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 18:12
Senin, 18 Maret 2013 | 19:24
Kamis, 12 Sepember 2013 | 10:32
Senin, 15 Juli 2013 | 14:44
Selasa, 10 Sepember 2013 | 01:41
Rabu, 29 Januari 2014 | 21:09
Katalog Berita

Nasional

Hiburan

Pariwisata

Ekbis

Komunitas

Urban

Kesehatan

Internasional

Olah Raga

loading...
target=_blank>


target=_blank>