Film “Boven Digoel” Siap Tayang di Hari Kesehatan Nasional
Tanggal Posting : Rabu, 22 Juni 2016 | 18:41
Pengirim : didang - Dibaca : 1160 Kali

Jurnalinfo.com--Beberapa hari lalu, proses shooting film “Boven Digoel” telah selesai dilakukan di Kampung Yahim Sentani, Danau Love Yoka Abepura, Bandara Ama Sentani, Pelabuhan Jayapura, Kampung Netar Sentani, Pantai Kelapa Satu Merauke, Tanah Merah Boven Digoel, Kampung Ampera Boven Digoel, Wilayah Wet Boven Digoel dan Pelabuhan Boven Digoel. Film produksi Foromoko Matoa Indah Film dengan arahan sutradara FX Purnomo ini rencananya siap tayang di Hari Kesehatan Nasional atau sekitar bulan November 2016, di seluruh bioskop Tanah Air.“Shootingnya telah dilakukan selama kurang lebih 20 hari dan kini segera memasuki proses paska produksi, “ kata sutradara FX Purnomo kepada wartawan, Sabtu (18/6/2016).

 

Lebih lanjut, sutradara yang akrab disapa Ipong Wijaya ini membeberkan tantangan dalam proses shooting-nya, yaitu kondisi alam Papua yang cukup susah untuk dijangkau. “Team Produksi Film ‘Boven Digoel’ melakukan perjalanan dari kabupaten Merauke ke kabupaten Boven Digoel yang ditempuh dengan perjalanan darat selama 10 jam. Lokasi shooting-nya menggunakan set artistik yang riil dengan tempat kejadian di tahun 90-an, yaitu berupa puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi sesar menggunakan silet,” ujarnya.

BANYAK DUKUNGAN

 

Film produksi PH pertama asli Papua ini mendapat banyak dukungan, mulai dari aktris senior  Christine Hakim, kemudian aktor muda berbakat Jflow Matulessy, dan para pemeran asal asli Papua seperti di antaranya Edo Kondologit, Lala Suwages, Ira Dimara, Maria Fransisca, Juliana Rumbarar, Ellen Aragay, Denny Imbiri, Echa Raweyai, Henry W. Muabuay, Bina Rianto, Tiot Karubuy, Yoppy Papey, Serly Wayoi, Jack Wadon, Ellin, Rey, Rossario Ivo dan Antonetta.

 

Salah seorang pemeran, Maria Fransisca adalah Putri Papua 2013 dan Finalis Putri Indonesia 2014 perwakilan Papua yang kini menjadi Duta Humas Polda Papua dan Duta Pemberantasan Narkoba Papua. Maria berharap film ini bisa menjadi pelajaran kita semua. “Banyak orang menilai operasi sesar dengan silet itu mustahil, tapi begitulah kenyataan yang terjadi di Boven Digoel Papua karena keterbatasan tenaga dan peralatan medis, “ ungkap dara manis kelahiran Papua, 11 oktober l995 yang kini masih jadi mahasiswi Teknik Planologi Uncen.

 

Kemudian, dari deretan produksi di belakang layar, ada nama-nama yang cukup dikenal dalam dunia perfilman, bahkan meraih penghargaan Piala Citra FFI, seperti di antaranya Yudi Datau (Penata Kamera Terbaik FFI 2005, Penata Kamera Terpuji FFB), Thoersi Argeswara (Penata Musik Terbaik FFI 2010 dan FFI 2011) dan Wawan I Wibowo (Penyunting Terbaik FFI 2009).

 

 

 

 

SANGAT MENARIK

Keterlibatan Christine Hakim, aktris langganan Piala Citra, membintangi film ini karena temanya sangat menarik mengenai seorang dokter yang mengabdikan diri di Boven Digoel Papua. "Ini tema yang nggak mungkin saya bisa tolak. Apalagi visi, misi, dan semangatnya sejalan. Jadi, saya sangat senang sekali terlibat dalam film ini," ungkapnya.

 

Aktris kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956 ini ingin mengenalkan kepada masyarakat, bahwa Papua pun memiliki potensi besar dalam dunia perfilman. "Ini bisa dibilang film pertama produksi asli Papua. Saat shooting film ini saya tak mengira kalau putra-putri asal Papua mempunyai kemampuan akting yang bagus dan sangat natural sekali. Mereka cepat sekali menghapal dialog dan cepat beradaptasi dalam produksi film. Mereka memang punya talenta dan sangat berbakat," pujinya.

 

Dalam film ini, Christine berperan sebagai ibu dari seorang dokter yang tampaknya memiliki kesan tersendiri, bahkan tak habis-habisnya ia memuji keindahan pulau Papua yang terletak di ujung timur Indonesia. "Saya kira yang sudah pernah ke Papua pasti sangat mencintai pulau yang luar biasa ini, keindahannya, kekayaannya, budayanya, masyarakatnya," pungkasnya.

 

UPAYA MAKSIMAL

 

John Manangsang sebagai pelaku sejarah, membeberkan manfaatnya produksi film tersebut yang mengangkat kejadian nyata 25 tahun yang lalu untuk hari ini dan masa depan. Fakta membuktikan dari 25 tahun lalu dengan tahun sekarang, bahwa di Papua angka kematian ibu dan bayi sekarang semakin tinggi dan menduduki rangking nomer satu di Indonesia. “Padahal, kalau kita lihat jaman dulu, tenaga dokter spesial ibu dan anak belum banyak di Papua di satu propinsi bisa dihitung dengan jari hanya satu-dua dokter. Sekarang di tiap kabupten ada satu hingga empat dokter. Rumah sakit sekarang ada dimana-mana, “ terang John Manangsang.

 

“Memang kisah nyata dalam buku yang diangkat jadi film ini menceritakan pergumulan dan perjuangan dokter muda yang ditempatkan di puskesmas pedalaman Papua, yang berupaya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya. Pertaruhan yang luar biasa. Bukan hanya hidup mati pada pasiennya, tapi juga hidup mati dokternya karena kondisi hutan dengan tidak ada bius untuk operasi, peralatan terbatas, tidak ada tenaga dokter yang memadai jadi melakukan operasi sesar dengan memakai silet, “ ungkapnya mengenang.

 

“Film ini menunjukkan bagaimana kita dokter Papua berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan ibu melahirkan, “ tegasnya. Sebelumnya, film ‘Boven Digoel’ yang berformat FTV dengan judul ‘Silet di Belantara Digoel Papua’ meraih penghargaan Piala Maya 2015 Kategori Film Daerah Terpilih.

 

 

 

Sinopsis Film ‘Boven Digoel’

 

Kisahnya tentang John (27 tahun), lelaki kelahiran Jayapura, yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu puskesmas di pedalaman di wilayah Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Sosoknya yang pintar bergaul, sopan, penuh dedikasi, dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak serta penuh kesabaran dan tetap teguh dalam pengharapan dalam suka maupun duka dalam segala hal ini, yang membuatnya disukai banyak orang.

 

Polemik kemudian muncul, ketika Dokter John dihadapkan sebuah kenyataan, dimana ia bersama stafnya harus melakukan operasi sesar terhadap seorang wanita bernama Ibu Agustina (35 tahun), yang notabene telah melahirkan sebanyak 9 kali. Tragisnya, Puslesmas Tanah Merah tidak mempunyai sarana yang memadai untuk melakukan operasi sesar ini. Ditambah lagi, masalah keterbatasan kemampuan tenaga kesehatan yang ada.

 

Setelah melakukan pemeriksaan lengkap dan melakukan wawancara medis dengan pasien, kesimpulannya, yaitu janin letak lintang, punggung janin di bagian bawah, tunggal, hidup dan cairan ketuban hampir habis. Kondisi yang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa baik ibu maupun janin yang dikandungnya berada dalam ancaman bahaya.

 

Melihat situasi yang demikian, segera saja Dokter John melakukan rapat koordinasi dengan para bidan dan suster. Dokter John lalu memerintahkan Bidan Anthoneta dan Suster Lidia untuk pergi ke Perum Telkom guna melakukan sterilisasi alat-alat operasi. Karena aliran listrik di Puskesmas pada siang hari belum menyala, dan baru menyala menjelang maghrib sampai pukul 24.00 WIT (Waktu Indonesia bagian Timur). Suster Ancelina ditugaskan untuk menyiapkan kamar ruang operasi, sekaligus digunakan sebagai ruang bersalin. Sementara Suster Olivia bertugas menyiapkan beberapa dug steril dan perlengkapan lainnya. Sedangkan Dokter John sendiri harus pergi ke gudang penyimpanan obat di kesusteran untuk mengambil kasa steril.

 

Keadaan tambah runyam, ketika sampai di gudang kesusteran Dokter John diberitahu oleh Suster Ivo kalau pintu gudang terkunci, dan kunci gudang dibawa oleh para suster ke Merauke. Setelah mengambil cairan obat bius di rumah tempat tinggalnya yang berjarak satu kilometer dari puskesmas dengan berjalan kaki, lantaran satu-satunya mobil ambulance milik puskesmas ringsek dan rusak akibat kecelakaan 15 tahun sebelumnya, Dokter John kembali ke puskesmas. Namun baru saja tiba di puskesmas, Mantri Thomas, salah satu karyawan puskesmas memberitahu kalau pisau operasi sudah habis.

 

Dokter John lalu memberikan selembar uang kertas seratus ribu rupiah kepada Mantri Thomas dan memerntahkannya untuk membeli silet. Lalu memerintahkan Bidan Anthoneta dan Suster Lidia untuk merebus alat-alat operasi dengan menggunakan kayu bakar. Tepat pukul 10.10 WIT, operasi sesar terhadap Ibu Agustina dilaksanakan dengan silet.

Data Produksi Film “Boven Digoel”:

 

Pemeran:

Christine Hakim sebagai Mama Dokter John

Jflow Matulessy sebagai Dokter John

Ira Dimara sebagai Ivonne, istri Dokter John

Maria Fransisca sebagai Bidan Antonetha

Lala Suwages sebagai Suster Ancelina

Ellen Aragay sebagai Suster Lidia

Juliana Rumbarar sebagai Suster Olivia

Denny Imbiri sebagai Mantri Petrus

Henry W. Muabuay sebagai Mantri Thomas

Echa Raweyai sebagai Ibu Agustina

Edo Kondologit sebagai Markus, Suami Agustina

Yoppy Papey sebagai Sopater, kakak Ibu Agustina

Meliza Materai sebagai Yakobi, adik Ibu Agustina

Bina Rianto sebagai Pastor Yos di Biara Kesusteran

Serly Wayoi sebagai Suster Ivo di Biara Kesusteran

Rosario Ivo sebagai Suster Tin Miqiu di Biara Kesusteran

Tiot Karubuy sebagai Kepala Kampung Kouh

Jack Wadon sebagai Kepala Kampung Mariam

 

Kru

Departemen Produksi

Produser: John Manangsang

Sutradara: FX Purnomo

Produser Eksekutif: H. Sahri

Line Producer: FX Purnomo

Supervisi Produksi: Toto Soegriwo

Unit Manager: Yudha Matani & Bina Rianto

Pimpinan Produksi: Henry W. Muabuay & Dedi Alfiandri  

Co-Sutradara: Wahyu Nugroho

Asisten Sutradara: Praditya Putri Ananda, Tiot Karubuy & Devi Surya

Ide Cerita: John Manangsang

Penulis Skenario: Jujur Prananto & FX Purnomo

 

Departemen Kamera

Penata Kamera: Yudi Datau

Asisten Kamera: Untung Kusrinto

 

Departemen Artistik

Penata Artistik: Dani Fadriyana

Penata Cahaya: Josep Yudi Hermawan

Penata Busana: Ernika Rumbarar

Penata Rias: Ernika Rumbarar

 

 

Departemen Suara dan Musik

Penata Suara: Asep Jaya Atmaja

Penata Musik: Thoersi Argeswara

Original Soundtrack: Etho Ririmase

 

Departemen Penyuntingan

Penyunting Gambar: Wawan I Wibowo

 

Produksi

Produksi: Foromoko Matoa Indah Film

 

Publicist: Akhmad Sekhu

 

Konsultan Hukum: Karel Van Houten Baransano, SH (didang)

 

 




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Populer
Berita Terbaru
Rabu, 8 Mei 2013 | 18:48
Minggu, 17 Februari 2013 | 22:30
Selasa, 4 Juni 2013 | 23:33
Jumat, 27 Desember 2013 | 13:00
Kamis, 16 Mei 2013 | 16:17
Kamis, 24 Maret 2016 | 08:22
Senin, 11 November 2013 | 17:45
Selasa, 11 Februari 2014 | 14:01
Senin, 26 Agustus 2013 | 08:15
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 18:12
Senin, 18 Maret 2013 | 19:24
Kamis, 12 Sepember 2013 | 10:32
Senin, 15 Juli 2013 | 14:44
Selasa, 10 Sepember 2013 | 01:41
Rabu, 29 Januari 2014 | 21:09
Katalog Berita

Nasional

Hiburan

Pariwisata

Ekbis

Komunitas

Urban

Kesehatan

Internasional

Olah Raga

loading...
target=_blank>


target=_blank>