GMT Momentum Jadikan Belitung Destinasi Kelas Dunia
Tanggal Posting : Sabtu, 27 Februari 2016 | 14:26
Pengirim : didang - Dibaca : 590 Kali
Menteri Pariwisata Arief Yahya, Foto : Biro Hukum dan Humas Kementerian Pariwisata

  Jurnalinfo.com-----Gerhana Matahari Total (GMT) 2016 yang akan berlangsung serentak  pada Selasa pagi, 9 Maret 2016, menjadi momentum dalam mewujudkan Belitung sebagai destinasi pariwisata kelas dunia ditandai dengan ditetapkannya Tanjung Kelayang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).  

 

“Kita harapkan KEK Pariwisata Tanjung Kelayang, Belitung ini bisa ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 9 Maret 2016 mendatang, bertepatan momentum GMT yang akan berlangsung serentak melewati 7 kota besar di Indonesia; Tanjung Pandan, Palembang, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Ternate, dan Sofifi,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam seminar bertajuk “Menuju Destinasi Wisata Kelas Dunia: Fenomena Gerhana Matari Total dan Pengembangan Pariwisata,”  yang berlangsung di Hotel BW Tanjung Pandan, Belitung, Senin (22/2).

 

Menpar Arief Yahya menjelaskan, penetapkan KEK Tanjung Kelayang diproyeksikan akan mendatangkan 500 ribu wisatawan mancanegara (wisman) ke Belitung atau naik 50 kali lipat dari kunjungan wisman tahun 2014 dan sekaligus akan menjadi salah satu penompang target pemerintah mendatangkan 20 juta wisman pada 2019 mendatang serta membuka 100 ribu lapangan kerja baru dan menghasilkan devisa US$ 500 juta atau setara Rp 7 triliun.

 

KEK Tanjung Kelayang merupakan kawasan pantai berpasir putih berada di pesisir utara Pulau Belitung yang berjarak 30 km dari kota Tanjung Pandan. Kawasan yang memiliki keunikan berupa bongkahan batu-batu granit besar ini telah dibangun fasilitas tambat kapal layar wisata (yacht) dan mulai dimanfaatkan  para peserta sail internasional di antaranya Sail Indonesia yang berlangsung pada Mare ttahun 2015 yang lalu.

 

Menpar Arief Yahya menjelaskan, pemerintah telah menetapkan pembangungan 10 destinasi wisata prioritas; Borobudur, Mandalika, Labuhan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Toba, Wakatobi, Tanjung Lesung, Morotai, dan Tanjung Kelayang sebagai trobosan dalam mengembangkan destinasi yang memiliki daya saing global tinggi. “Kita harapkan dari pembangunan 10 destinasi prioritas ini akan diperoleh 8,5 juta wisman. Pembangunan fasilitas labuh yacht tersebut  merupakan bagian dari program percepatan akselerasi dalam rangka mencapai target 20 juta wisman pada  2019 mendatang,” kata  Arief Yahya.

 

Pemerintah telah menetapkan sektor pariwisata sebagai penghasil devisa utama dan menggantikan posisi sektor minyak dan gas bumi, batubara, dan kelapa sawit yang cendrung mengalami penurunan. Oleh karena itu,  pariwisata terus dipicu agar tumbuh dua kali lipat pada lima tahun ke depan dengan target; memberikan kontribusi pada PDB nasional sebesar 8%, devisa yang dihasilkan sebesar Rp 240 triliun,  menciptakan 13 juta lapangan kerja, kunjungan wisman sebanyak 20 juta wisman,  dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia akan berada di ranking 30 dunia.

 

Bagi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, fenomena spektakuler ini merupakan peluang untuk menciptakan pergerakan wisatawan nusantara, bahkan meningkatkan angka jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Dalam pernyataannya, Menteri Pariwisata Republik Indonesia memprediksikan adanya dampak langsung, berupa pergerakan sebesar 5 juta wisatawan nusantara di sejumlah jalur Gerhana Matahari (GM), dan akan terjadi 50 ribu pergerakan wisatawan nusantara di 12 wilayah yang terkena Gerhana Matahari Total (GMT). Sementara untuk kunjungan wisatawan mancanegara di wilayah Gerhana Matahari akan mencapai 100 ribu wisatawan, sementara di sejumlah kota yang tersebar 12 provinsi terjadi Gerhana Matahari Total, akan hadir 10 ribu wisatawan mancanegara. Menteri Pariwisata menambahkan angka-angka tersebut diperoleh dari perkiraan kecendrungan capaian kunjungan wisatawan setiap tahunnya yang diformulasi  dengan ketetapan target kunjungan. Asumsi tersebut juga didasarkan pada kondisi bahwa 12 daerah yang terkena Gerhana Matahari Total tersebut bukanlah daerah-daerah kantong kontributor wisatawan. Sebagaimana kantong kontributor wisman ditetapkan dalam 3 greater. Selanjutnya,  dari perkiraan tersebut dampak langsung pendapatan negara dari belanja wisatawan diprediksikan  akan mencapai 200 Milyar Rupiah.

           

Dampak lainnya yang diperoleh dari Fenomena spektakuler ini adalah dampak tidak langsung, berupa perolehan media value. Dr. Arief Yahya, memperkirakan dalam 10 hari, pre-event, on-event  dan post-event Gerhana Matahari Total, jika media TV dan Non TV se- Indonesia mengabarkan fenomena spektakuler ini sebanayk 10 kali saja, maka akan senilai dengan belanja media seharga 400 Milyar Rupiah.

           

Dalam Jumpa Pers sebelumnya, bersama sejumlah Gubernur yang daerahnya dilalui oleh Gerhana Matahari Total, telah berkomitmen untuk memeriahkan fenomena spektakuler dengan sejumlah atraksi budaya dan aktivitas sosial- ekonomi masyarakat. Kementerian Pariwisata sendiri telah menggulirkan anggaran belanja negara untuk anggaran promosi senilai 20 Milyar Rupiah. Artinya dengan investasi negara tersebut, negara akan diuntungkan dengan pendapatan sebesar 600 Milyar rupiah, berkah dari dampak langsung dan dampak tidak langsung Fenomena spektakuler Gerhana Matahari dan Gerhana Matahari Total.

 

GMT 2016 dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan kunjungan wisman karena peristiwa fenomena alam yang langka hanya terjadi dalam 350 tahun sekali itu banyak diminati wisatawan dari kalangan;  astronom dan peneliti,  komunitas astronomi, fotografer, maupun wisman dan wisnus termasuk masyarakat setempat. Peristiwa GMT mempunyai nilai pemberitaan (value news)  dan promosi yang tinggi. Sebagai perbandingan (benchmarking) ketika terjadi GMT 2012 di Queensland, Australia berhasil menarik sebanyak 60 ribu pengunjung termasuk 1.200 peneliti dari Jepang yang datang dengan mencater pesawat. Peristiwa tersebut mempunyai nilai promosi yang tinggi karena disaksikan sekitar 20 juta orang lewat NASA live broadcast .

 

Upaya mensukseskan GMT 2016 dilakukan Kemenpar bersama stakeholder pariwisata antara lain dengan membuat brand/logo/tagline “Total Solar Eclipse Indonesia 2016” kemudian  dijadikan sebagai campaign theme di bursa pariwisata internasional seperti ITB Berlin, WTM, JATA, DEMA, Cruise Shipping Miami, dan MATTA. Event GMT 2016 juga dipromosikan di berbagai media cetak dan elektronik internasional, online media, OOH Media (welcome billboard dan Wonderful Indonesia at hot air baloons), mailing list, astronomer online forum, Yahoo Group, sosial media, maupun melalui merchandise  dalam rangka  eclipse awareness campaign. Selain itu bekerjasama dengan pelaku usaha pariwisata dipersiapkan paket tour antara lain; eclipse regatta, eclipse goft tour, eclipse trekking or cycling, dan nature wonders package.

 

Seminar yang diselenggarakan Kemenpar bersama Pemda Belitung dan Harian Kompas tersebut  selain dihadiri Menpar Arief Yahya (keynote speech), Gubernur Kepulauan Bangka Belitung H. Rustam Effendi, Bupati Belitung Sahani Saleh, Bupati Belitung Timur Yuslih Ihza Mahendra, Kepala Program Studi Magister dan Doktor Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada M.Baiquni, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa  Nasional Thomas Djamaludin, Wapemred Kompas Ninuk Mardiana Pambudy, dan Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia Kepulauan Bangka Belitung Agus Pahlevi. (pr/didang)

 

 




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Populer
Berita Terbaru
Rabu, 8 Mei 2013 | 18:48
Minggu, 17 Februari 2013 | 22:30
Selasa, 4 Juni 2013 | 23:33
Jumat, 27 Desember 2013 | 13:00
Kamis, 16 Mei 2013 | 16:17
Kamis, 24 Maret 2016 | 08:22
Senin, 11 November 2013 | 17:45
Selasa, 11 Februari 2014 | 14:01
Senin, 26 Agustus 2013 | 08:15
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 18:12
Senin, 18 Maret 2013 | 19:24
Kamis, 12 Sepember 2013 | 10:32
Senin, 15 Juli 2013 | 14:44
Selasa, 10 Sepember 2013 | 01:41
Rabu, 29 Januari 2014 | 21:09
Katalog Berita

Nasional

Hiburan

Pariwisata

Ekbis

Komunitas

Urban

Kesehatan

Internasional

Olah Raga

loading...
target=_blank>


target=_blank>