Kisah Pak Mamad, Pemulung Sukses Hidupi 3 Anak Yatim
Tanggal Posting : Selasa, 21 Juni 2022 | 11:22
Pengirim : Lilik Mustika Wati - Dibaca : 132 Kali

Jakarta, Jurnalinfo.com-Kebanyakan orang lupa bersyukur dan masih mengeluh dengan nasib yang dialaminya karenafaktor ekonomi yang dibawah kata cukup untuk kebutuhan hidup dan membahagiakan keluarga.

Tapi berbeda dengan Pak mamad yang sudah berusia 60 tahun, dengan barang bekas yangdikumpulkan setiap harinya tanpa rasa lelah mampu untuk menghidupi 3 anak yatim. Pak mamadsendiri tidak mempunyai istri dan anak. Pak mamad ngontrak di tajung gedong karena menurutdia lebih memilih ngontrak dibandingkan tinggal dikolong jembatan. 

"Saya memilih ngotrak karena kasihan kepada 3 anak yatim yang saya asuh karena takut terkena penyakit dan takutnanti kenapa-kenapa mereka kalo tinggal dikolong jembatan" ujar pak Mamad.

Seperti biasanya tepat setelah subuh sebelum matahari terbit ia bangun untuk melawan kerasnyajakarta demi hidupnya dan juga 3 anak yatim yang di asuhnya. Setiap hari pak mamad selaluberkeliling mencari barang bekas mulai dari  pukul 05.00 pagi sampai jpukul 24.00 WIB. Bahkan sampai pukul  02.00 dini hari.  ia mencari barang bekas seharian mulai dari Tawakal raya, Grogolkemudian Bundaran HI samapi Taman Anggrek setelah itu baru pulang. Barang bekas yangdikumpulkan nantinya akan saya jual setiap satu minggu sekali. "biasanya pendapatan saya satuminggu Rp.120.000 itu paling banyak kadang juga dapat Rp.80.000 belum lagi nanti buat bayarkontrakan" ujar pak mamad.

Walaupun penghasilan yang dihasilkan sedikit tapi dia tidak pernah mengeluh untuk berusahadan bekerja setiap hari. Pak mamad menjadi seorang pemulung mulai dari tahun 1992 di hitungsampai sekarang berarti sudah 30 tahun.

Dulu sebelum menjadi pemulung pak mamad pernahbekerja sebagai clinic services di salah satu sekolah di Tangerang.Semua peluh yang melanda disekujur tubuh manjadi langkah kaki pak mamad untuk terusmengais sampah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pak mamad memilih menjadi pemulungkarena itu pilihan terbaik daripada menjadi pengemis

"Menurut saya bahwa saya masih sangupuntuk bekerja walaupun hanya menjadi pemulung daripada mengemis meminta-minta kepadaorang karena saya merasa malu lebih baik bekerja daripada meminta-minta kepada orang" uajrpak mamad.Kemudian merampok barang orang yang bukan hak kita walaupun kita menjadi pemulung."ibarat kata manusia masih memandang pemulung sebelah mata karena kenapa karena sayasampah masyarakat kebanyakan orang begitu memandang pemulung sebelah mata" ujar pakmamad. Pak mamad mengenakan kaos berwarna coklat kusam menutup wawancara denganmengatakan bahwa "walaupun saya sampah masyarakat saya tetap mesyukuri apa yang Allahberikan kepada saya" ujar pak mamad. 

LILIK MUSTIKA WATI




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait

https://www.esaunggul.ac.id
https://www.beritajakarta.id
https://persija.id
Berita Populer
Berita Terbaru
Rabu, 8 Mei 2013 | 18:48
Minggu, 17 Februari 2013 | 22:30
Selasa, 4 Juni 2013 | 23:33
Jumat, 27 Desember 2013 | 13:00
Kamis, 16 Mei 2013 | 16:17
Kamis, 24 Maret 2016 | 08:22
Selasa, 11 Februari 2014 | 14:01
Senin, 11 November 2013 | 17:45
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 18:12
Senin, 26 Agustus 2013 | 08:15
Senin, 18 Maret 2013 | 19:24
Kamis, 12 Sepember 2013 | 10:32
Senin, 15 Juli 2013 | 14:44
Selasa, 10 Sepember 2013 | 01:41
Rabu, 29 Januari 2014 | 21:09
Katalog Berita

JURNAL INTERNASIONAL

JURNAL HIBURAN

JURNAL PARIWISATA

JURNAL URBAN

JURNAL HAJI DAN UMROH

JURNAL IDUL FITRI 1443 H

JURNAL NASIONAL

JURNAL NASIONAL

loading...
target=_blank>


target=_blank>