Wibowo Karfendi Diduga Bantu Kakaknya Gelapkan Uang PT DMK Rp795 Juta
Tanggal Posting : Senin, 15 Mei 2017 | 13:56
Pengirim : redaksi - Dibaca : 315 Kali
Wibowo Muliawan Karfendi

Jakarta, Jurnalinfo.com- Wibowo Muliawan Karfendi, adik kandung Timmy Karfendi, terdakwa kasus penggelapan Uang Rp.795 juta milik PT Delima Mustika Kencana (DMK) diduga terlibat dalam kasus tersebut. 

"Wibowo diduga terlibat dalam kasus penggelapan uang PT DMK, dan sudah saya laporkan ke Polda Metro Jaya. Sebab, semua transaksi masuk ke rekening Wibowo. Yang bersangkutan saat ini diduga berada di Filipina. Di mana sebelumnya dideportasi dari Amerika Serikat," ujar Bachtiar Sukria sebagai Direktur Operasional PT DMK kepada Jurnalinfo.com, Senin (15/5/2017). Saat melapor kasus tersebut ke Mapolda Metro Jaya,  Bachtiar didampingi kuasa hukumnya,  Golfrits Mustofa Hasudungan Tambunan,  SH,  MH. 


Menurut Bachtiar, Wibowo sudah berulang kali dipanggil penyidik Polda Metro Jaya, tapi tidak pernah hadir. Menurut pengacaranya, dari dokumen imigrasi, yang bersangkutan ada di Filipina.

"Saya minta kepada Interpol dan Mabes Polri untuk mengirim red notice atas nama Wibowo Mulyawan Karfendi. Sehingga bisa memperjelas kasus ini, baik untuk penyidikan di Mapolda Metro Jaya, maupun persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan," tambah Bachtiar.

Pada berita sebelumnya, Timmy Karfendi, Direktur Keuangan PT DMK,  didakwa menggelapkan uang PT DMK Rp795 Juta, lantaran tergiur bisnis uang merah atau polymer pecahaan Rp.100.000 senilai Rp.180 Milyar. Bisnis haram itu terdiri 2 kotak emisi tahun 1997, 1 kotak emisi tahun 1999 yang akan di konversikan ke mata uang USD. 

Timmy Karfendi sebagai Direktur Pembelian dan Penjualan PT DMK, yang bergerak di bidang batubara, nekad menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja sebesar Rp795 juta, dan telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Bachtiar Sukria sebagai Direktur Operasional   yang telah diberi kuasa oleh Thian Lie Thong sebagai Direktur Utama PT DMK. 

Saat proses penyidikan, Timmy Karfendi  maupun Wibowo Muliawan Karfendi sempat menghilang. Namun polisi berhasil menangkap Timmy saat pulang dikediamanya di Sunter Mas Blok T 12 Jakarta Utara. 

Sedangkan Wibowo Muliawan Karfendi diduga saat ini berada di Filipina yang sebelumnya dideportasi dari Amerika Serikat.

Menurut keterangan Timmy Karfendi  kepada Bachtiar,  batubara 700 MT akan dibeli PT.Pasific Food,di Purwakarta, Jawa Barat, dan sebagai Manager  dari pabrik bihun tersebut adalah M.Luthfi Agil. 

Sedangkan sisa dari 1000 MT yaitu 300 MT dikatakan Timmy Karfendi telah susut, sedangkan Bachtiar tahu bahwa stock batubara tersebut telah tidak ada sejak akhir 2013 sesuai  keterangan dari  H. Makmur Susilo sebagai pemilik stockpile PT.Astria, dan di buktikan dengan keterangan keluar dan masuk batubara yang di titip oleh timmy karfendi yang diberikan ke PT.DMK

Dalam pertemuan beberapa kali Bachtiar diberikan cek oleh  Luthfi  Rp500 juta sebagai pembayaran batubara 700 MT. Bachtiar menolak karenaTimmy harus bertanggung jawab batubara sebanyak 1000 mt.

"Sampai saat ini secara pisik  saya belum melihat batubara tersebut dan kalau memang sudah terjual mana uangnya bila belum terjual dimana batubara tersebut," ujar Bachtiar kepada Timmy.
Kemudian bachtiar menegur Luthfi, karena merasa dibohongi.   

"Kenapa kalian tega membohongi saya  dan Luthfi saat bertemu dengan saya, menyatakan bahwa semua rekayasa Timmy. Dia mau berbuat ini karena sudah diberi uang Timmy Rp300 juta lewat Wibowo dan Timmy secara bertahap untuk bisnis uang merah atau uang Polymer.Lantaran gagal, Timmy minta penggantian sebesar Rp500 juta untuk diberikan ke PT DMK," ujarnya.

Bachtiar pun marah kepada Timmy, dan minta kepadanya mengembalikan batubara 1.000 MT milik PT DMK atau berbentuk uang Rp795 juta.

Kasus tersebut masih disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan masih dalam mendengar kesaksian dari saksi-saksi pelapor. 

Pada sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum Agnes Renitha Butar butar SH menjelaskan pada Juli 2013, terdakwa yang bekerja sebagai Direktur Pembelian dan Penjualan PT. DMK, bergerak dibidang  pembelian dan penjualan batubara, disepakati bahwa pembayaran upah berdasarkan sistim bagi hasil, dimana pembelian batubara menggunakan  uang Sdr. Thian Lie Thong selaku Direktu Utama, dan terdakwa akan memberikan keuntungan Rp.30.000/MT (Tiga puluh Ribu Rupiah per metrik ton) kepada sdr.Thian Lie Thong.

Telah melakukan pembelian batubara dari CV.International Coal sebanyak 1.000 Mt (seribu Metrik ton) batubara berkualitas Asalan Tipikal High kalori dengan harga Rp.795.000.000,- untuk 1.000 MT.

Dalam fakta persidangan selanjutnya batubara tersebut seluruhnya sebanyak 1.000 MT terdakwa jual kepada pembeli yaitu pada bulan Agustus 2013, kepada Sdr.Teguh Suprayitno sebanyak 450 MT dengan harga nilai jual Rp.400.000.000,-, namun untuk pembayaran pembelian batubara tersebut belumdibayar lunas oleh Teguh Suprayitno dan baru di bayar Rp.20.000.000,- dan uang pembayaran tersebut telah terdakwa setorkan kepada Sdr.Thian Lie Thong melalui rekening BII milik terdakwa ke rekening  BCA milik anak Sdr. Thian Lie Thong, selanjutnya pada bulan September 2013,terdakwa melakukan penjualan batubara kepada Sdr.Muhamad Luthfi  Agil dari PT.Pasific Food sekitar 100 MT (seratus metrikton ) dengan nilai penjualan Rp.800.000 per metrik ton, dan uang penjualan batubara tersebut telah dibayar lunas oleh PT.Pacific food pada bulan September  2013 kepada terdakwa sebesar Rp.100.000.000,- dan uang hasil penjualan batubara tersebut belum terdakwa setorkankepada PT.Delima Mustika Kencana selaku pemilik batubara tambah Agnes.

Kemudian pada bulan November 2013 terdakwa melakukan penjualan batubarakepada PT.Bina Karya Prima  sekitar 450 MT(empat ratus lima puluh metrik ton) dengan nilai harga Rp.400.000.000 (Empat Ratus Juta Rupiah) yang telah dibayarkan kepada terdakwa dengan cara transfer dari rekening PT.Bina Karya kepada rekening Mandiri atas nama terdakwa, dan uang hasil penjualan tersebut belum terdakwa setorkan kepada PT.Delima Mustika Kencana selaku pemilik batubara.

Bahwa uang penjualan batubara sebesar Rp.500.000.000,- (Lima Ratus Juta Rupiah) yang seharusnya terdakwa setorkan kepada PT.Delima Mustika Kencana tersebut , pada hari dan tanggal yang terdakwa tidak ingat lagi dalam bulan Desember 2013, di Food Court Bidakara  Jakarta Selatan , tanpa seizing dan sepengetahuan Thian Lie Thong selaku pemilik dari uang Rp.500.000.000,- dari hasil penjualan batubara, telah terdakwa serahkan kepada Muhamad Luthfi Agil untuk keperluan terdakwa sendiri yang akan di pergunakan  untuk membayar biaya sewa kendaraan jasa pengangkut uang tunai.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan di ancam pidana berdasarkan ketentuan Pasal 374 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana REI. 




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Populer
Berita Terbaru
Rabu, 8 Mei 2013 | 18:48
Minggu, 17 Februari 2013 | 22:30
Selasa, 4 Juni 2013 | 23:33
Jumat, 27 Desember 2013 | 13:00
Kamis, 16 Mei 2013 | 16:17
Kamis, 24 Maret 2016 | 08:22
Senin, 11 November 2013 | 17:45
Selasa, 11 Februari 2014 | 14:01
Senin, 26 Agustus 2013 | 08:15
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 18:12
Senin, 18 Maret 2013 | 19:24
Kamis, 12 Sepember 2013 | 10:32
Senin, 15 Juli 2013 | 14:44
Selasa, 10 Sepember 2013 | 01:41
Rabu, 29 Januari 2014 | 21:09
Katalog Berita

Nasional

Hiburan

Pariwisata

Ekbis

Komunitas

Urban

Kesehatan

Internasional

Olah Raga

loading...
target=_blank>


target=_blank>