Yuk Diet Tinggi Protein!
Tanggal Posting : Kamis, 24 Desember 2020 | 08:44
Pengirim : Monique Handa Shafira - Dibaca : 332 Kali
Foto ilustrasi wanita berdiet

Jakarta, Jurnalinfo.com-Bagi Anda yang mau sehat, tentu menjaga pola makan dengan diet. Misalnya diet tinggi protein dan memangkas asupan karbohidrat banyak dilakukan orang untuk menjaga kesehatan sekaligus berat badan. Bahkan, beberapa orang yang hobi olahraga mengonsumsi suplemen protein. Sebenarnya berapa banyak sih asupan protein yang diperlukan tubuh?

Protein penting untuk perkembangan dan perbaikan sel tubuh. Pangan kaya protein seperti susu, daging, telur, ikan dan kacang-kacangan akan dipecah menjadi amino acid di dalam perut, diserap usus halus, kemudian organ hati akan memilah amino acid yang diperlukan tubuh. Sisanya dikeluarkan melalui urine.

Setiap hari, melansir Femina, orang dewasa rata-rata memerlukan 0,75 gram protein untuk setiap satu kilogram berat badannya. Secara umum, wanita butuh 45 gram protein, sementara pria perlu 55 gram protein per hari. Kekurangan protein dapat menyebabkan rambut rontok, kulit rusak, berat badan berkurang, dan penurunan masa otot. Namun kondisi seperti ini jarang timbul, kecuali bagi orang yang mengalami gangguan makan, eating disorders.

Protein kerap diasosiasikan dengan membangun otot. Ini memang benar, karena latihan berat bisa timbulkan kerusakan protein di otot. Protein perlu dibangun kembali agar otot tumbuh lebih kuat.

Jenis amino acid yang bernama leucine berperan penting dalam memicu sintesis protein dalam tubuh. Oleh karena itu, orang yang gemar olahraga biasanya mengonsumsi produk suplemen protein.

Laporan lembaga riset Mintels pada 2017 yang dilakukan di Inggris menyebutkan, sebanyak 27 persen orang mengonsumsi produk suplemen protein. Penggunaan produk ini mencapai 39 persen bagi mereka yang berolahraga lebih dari sekali dalam seminggu. Namun, sebanyak 63 persen orang yang mengonsumsi suplemen protein tidak yakin produk tersebut memberi manfaat bagi mereka

Para ahli berpendapat, mengonsumsi suplemen protein seperti protein bar atau minuman protein sesungguhnya tak perlu dilakukan. Manusia bisa memperoleh protein harian lebih dari yang direkomendasikan hanya dari makanan yang dikonsumsi.

"Kita tak perlu mengonsumsi suplemen. Memang lebih praktis memperoleh protein dari suplemen makanan. Tapi semua zat yang ada dalam suplemen bisa diperolah dari makanan. Protein bar itu hanyalah permen dengan ekstra protein," urai Kevin Tipton, Profesor Olahraga dari University of Stirling, Skotlandia.

Meskipun banyak pakar menilai protein lebih baik dikonsumsi melalui makanan, ada pengecualian bagi kalangan tertentu. Orang yang memiliki target protein harian seperti atlet bisa mengonsumsi suplemen untuk mendukung kebutuhan protein.

"Mereka membutuhkan protein lebih tinggi dari pada rekomendasi harian orang pada umumnya," terang Graeme Close, Profesor Fisiologi Manusia di Liverpool John Moores University, Inggris.

Sementara itu, lansia juga butuh protein lebih banyak. Semakin tua seseorang, maka ia membutuhkan lebih banyak protein untuk menjaga masa otot. Menurut Profesor Close, lansia membutuhkan 1,2 gram protein pada tiap satu kilogram berat tubuh.

Namun pernah ditemukan kasus kelebihan protein pada manusia. "Ada kekhawatiran bahwa diet tinggi protein dapat merusak ginjal dan tulang, namun belum ada bukti yang menunjukkan hal itu. Memang ada kemungkinan timbul masalah jika seseorang dengan gangguan ginjal mengonsumsi protein tinggi, namun nyatanya sangat jarang ada efek samping yang timbul," jelas Profesor Tipton.

Protein sering dikaitkan dengan upaya mengurangi berat badan. Studi MRI (magnetic resonance imaging) menunjukkan, sarapan tinggi protein dapat menunda perasaan lapar.

Alex Johnstone dari University of Aberdeen percaya, diet tinggi protein ampuh untuk mengurangi berat badan. Jika Anda ingin diet makanlah sarapan tinggi protein seperti kacang-kacangan dengan roti panggang atau smoothie. Itu lebih baik ketimbang mengonsumsi suplemen.

Namun Johnstone tak menganjurkan diet dengan mengurangi asupan karbohidrat karena dapat berdampak buruk pada usus, sebuah organ yang sangat mempengaruhi kesehatan tubuh. ** Baca juga: Beberapa Hal yang Bisa Bikin Anda Mimpi Buruk di Malam Hari

Johnstone menganjurkan pola konsumsi diet dengan perbandingan 30 persen protein, 40 persen karbohidrat, dan 30 persen lemak bagi orang dengan kelebihan berat badan. Sementara, diet rata-rata dapat dilakukan dengan mengonsumsi 15 persen protein, 55 persen karbohidrat, dan 30 persen lemak.

Pilihlah daging rendah lemak seperti ayam dan ikan. Sejumlah penelitian menunjukkan, konsumsi protein hewani dalam jumlah besar dapat menambah berat badan. Di samping itu, daging merah meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung.

Karena itu, lebih baik mengonsumsi protein nabati, misalnya jamur.

MONIQUE HANDA SHAFIRA




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait

https://www.iisip.ac.id/pmb
https://donasiberkah.id/wakaf-pondok-pesantren-annawawi-albantani
https://beasiswaunggulan.kemdikbud.go.id
Berita Populer
Berita Terbaru
Rabu, 8 Mei 2013 | 18:48
Minggu, 17 Februari 2013 | 22:30
Selasa, 4 Juni 2013 | 23:33
Jumat, 27 Desember 2013 | 13:00
Kamis, 16 Mei 2013 | 16:17
Kamis, 24 Maret 2016 | 08:22
Selasa, 11 Februari 2014 | 14:01
Senin, 11 November 2013 | 17:45
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 18:12
Senin, 26 Agustus 2013 | 08:15
Senin, 18 Maret 2013 | 19:24
Kamis, 12 Sepember 2013 | 10:32
Senin, 15 Juli 2013 | 14:44
Selasa, 10 Sepember 2013 | 01:41
Rabu, 29 Januari 2014 | 21:09
Katalog Berita

JURNAL NASIONAL

JURNAL HIBURAN

JURNAL PARIWISATA

JURNAL URBAN

JURNAL HAJI DAN UMROH

loading...
target=_blank>


target=_blank>