Yuk Mengenal Sang Burung Merak, WS Rendra
Tanggal Posting : Sabtu, 12 Sepember 2020 | 17:28
Pengirim : Sarah Heriana Tanjung - Dibaca : 334 Kali
Al,arhum seniman WS Rendra yang jadi muslim

Jakarta, Jurnalinfo.com-Terlahir sebagai seniman multitalenta, almarhum WS Rendra malang melintang di dunia seni Indonesia lewat medium puisi dan dunia akting. WS Rendra dikenal pernah bermain dalam beberapa judul film seperti Al Kautsar(1977), Yang Muda Yang Bercinta (1977), hingga Terminal Cinta. Dia juga dijuluki Si Burung Merak atas penampilannya membawakan puisi dan mendirikan Bengkel Teater Rendra yang juga dikenal di dunia teater Indonesia.

Dia lahir dengan nama lengkap Willibrordus Surendra (WS) Broto Rendra pada 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah dan beragama Katolik  yang akhirnya pindah ke Islam jadi mualaf. Ayahnya yang bernama Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dikenal sebagai guru bahasa terutama Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di sebuah SMA Katolik di Solo.


Sementara sang ibu yang bernama Raden Ayu Catharina merupakan seorang penari di istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tumbuh dan besar di lingkungan keluarga yang menggeluti seni dan budaya mempengaruhi Rendra sebagai seniman dengan karya-karyanya yang memberikan pengaruh bagi dunia seni Indonesia.

Minat menulis Rendra terhadap puisi sudah ada sejak ia duduk di kelas 2 SMP. Sajak karya Rendra telah dipublikasikan sejak tahun 1950-an di beberapa majalah, seperti Siasat, Kisah, dan Konfrontasi.

Pada masa SMA, Rendra juga pernah menulis drama untuk pementasan di sekolahnya. Drama pertama yang ditulisnya berjudul Kaki Palsu. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Rendra melanjutkan pendidikan di Akademi Luar Negeri di Jakarta.

Namun sekolah itu telah ditutup sebelum Rendra tiba di Jakarta. Dia kemudian melanjutkan kuliah di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Rendra kemudian pernah mendapat beasiswa untuk belajar drama dan seni dari America Academy of Dramatic Art (AADA) pada tahun 1964. Menjadikannya orang Indonesia pertama yang menempuh pendidikan drama di AADA.

Sepulangnya dari Amerika Serikat pada tahun 1968, Rendra kemudian mendirikan Bengkel Teater.
Seni dan jalan hidup WS RendraRendra juga sempat mengajar Drama di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, yang saat itu dibantu oleh Arifin C. Noor sebagai asisten.

Beberapa pementasan drama juga diwujudkan oleh Rendra baik sebagai pemain maupun penulis naskah pada medio ini, seperti pementasan Mahabarata, Bip-Bop (1968), Menunggu Gadot (1969), Dunia Azwar (1971), hingga Mastodon dan Burung Kondor (1972) yang menuai kontroversi.

Dalam dunia puisi, karya-karya populer Rendra antara lain kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta,Blues Untuk Bonnie, Sajak-sajak Sepatu Tua, Nyanyian Orang Urakan, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Sajak Sebatang Lisong dan masih banyak yang lainnya untuk disebutkan.

A. Teeuw dalam bukunya berjudul Sastra Indonesia Modern II (1989) menyatakan bahwa Rendra tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu angkatan atau kelompok sastra. Beberapa karya Rendra juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Jerman, Jepang, Belanda, dan Hindi.

WS Rendra juga pernah bergabung dalam grup musik Kantata Takwa yang diisi oleh sejumlah nama besar dalam dunia musik, seperti Iwan Fals, Setiawan Djodi, Sawung Jabo, hingga Yockie Suryoprayogo.

Kisah lahirnya Kantata Takwa bermula dari kedekatan Rendra dan Setiawan Djodi yang telah lama menjadi donatur dalam Bengkel Teater. Dalam perjalanannya Kantata Takwa menjadi kelompok musik yang kerap membicarakan mengenai masalah sosial, politik, dan ekonomi dalam lagu-lagunya.


Salah satu yang paling diingat dari Kantata Takwa adalah konser mereka yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 23 Juni 1990 yang dipadati oleh ratusan ribu penonton. Menjadikannya salah satu konser terbesar yang pernah dilakukan oleh musisi Indonesia.

11 tahun yang lalu tepatnya pada 6 Agustus 2009, WS Rendra meninggal dunia. Dia dimakamkan di lokasi pemakaman keluarga di Bengkel Teater Seni. WS Rendra yang berada di Cipayung. Meski telah lama berpulang, karya-karya Si Burung Merak tetap abadi dan tak lekang oleh waktu.


ANTARA/ SARAH HERIANA TANJUNG




Silahkan Beri Komentar Anda

Berita Terkait

https://www.iisip.ac.id/pmb
http://www.unsoed.ac.id
https://www.coca-cola.co.id/id/home
Berita Populer
Berita Terbaru
Rabu, 8 Mei 2013 | 18:48
Minggu, 17 Februari 2013 | 22:30
Selasa, 4 Juni 2013 | 23:33
Jumat, 27 Desember 2013 | 13:00
Kamis, 16 Mei 2013 | 16:17
Kamis, 24 Maret 2016 | 08:22
Selasa, 11 Februari 2014 | 14:01
Senin, 11 November 2013 | 17:45
Sabtu, 10 Agustus 2013 | 18:12
Senin, 26 Agustus 2013 | 08:15
Senin, 18 Maret 2013 | 19:24
Kamis, 12 Sepember 2013 | 10:32
Senin, 15 Juli 2013 | 14:44
Selasa, 10 Sepember 2013 | 01:41
Rabu, 29 Januari 2014 | 21:09
Katalog Berita

JURNAL NASIONAL

JURNAL HIBURAN

JURNAL PARIWISATA

JURNAL NASIONAL

JURNAL URBAN

loading...
target=_blank>


target=_blank>